Berita dan Informasi Teraktual seputar Sawit Regional Sumatera.

Get In Touch

Minyak Sawit Solusi untuk Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Minyak Sawit Solusi untuk Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Minyak Sawit Solusi untuk Melestarikan Keanekaragaman HayatiSAWITSUMATERA.ID- Pada umumnya komoditas pertanian utama dunia dibudidayakan secara monokultur. Gandum, jagung, kacang-kacangan, padi, dan tanaman lain yang ditanam di berbagai negara dibudidayakan secara monokultur.

Budidaya komoditas pertanian menggunakan sistem monokultur karena dinilai lebih menguntungkan, produktif, efisien, dan mampu mencapai skala ekonomi atau economic of scale (PASPI, 2023).

BACA JUGA:Peran Kunci Minyak Sawit sebagai Pilar Pangan Global

Berdasarkan data USDA (2022), secara global luas areal gandum mencapai 221 juta hektare, luas areal jagung mencapai 202 juta hektare, dan luas areal padi mencapai 167 juta hektare. Budidaya tanaman minyak nabati utama dunia juga menggunakan sistem monokultur dengan luas areal terbesar adalah kedelai (130 juta hektare), kemudian diikuti rapeseed (37,8 juta hektare), bunga matahari (28,4 juta hektare), dan kelapa sawit (25 juta hektare).

PASPI (2023) dalam jurnal berjudul Kelapa Sawit dan Biodiversitas mengatakan bahwa perkebunan kelapa sawit bukanlah komoditas pertanian monokultur yang terluas di dunia. Berdasarkan data tersebut di atas, luas perkebunan kelapa sawit dunia masih jauh di bawah komoditas pertanian lain.

BACA JUGA:Jejak PT SAL di Tabir Selatan Dari Aksi Kesehatan ke Ikatan Sosial

Dengan luas areal paling hemat di antara berbagai komoditas lain maka perkebunan kelapa sawit memiliki biodiversity loss yang jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan berbagai komoditas lain. Alhasil, penggunaan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global justru turut berkontribusi positif terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.

Berikut ini beberapa hal yang membuat kelapa sawit memiliki dampak positif terhadap pelestarian biodiversitas yakni bukan tanaman monokultur terluas di dunia, tingkat biodiversity loss rendah, serta biodiversitas bertumbuh.

Bukan Tanaman Monokultur Terluas. Seperti disampaikan sebelumnya, perkebunan kelapa sawit bukanlah tanaman monokultur yang terluas di dunia. Apalagi, perkebunan sawit sebetulnya tidak dapat dikategorikan sebagai monokultur murni seperti tanaman minyak nabati lain.

BACA JUGA:Kelapa Sawit Jadi Solusi Ketimpangan Ekonomi

Perlu diketahui bahwa pada fase penanaman dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) di sela-sela tanaman kelapa sawit ditanam tumbuhan cover crop berupa tanaman kacang-kacangan (Prawirosukarto et al., 2005; Yasin et al., 2006; PASPI Monitor, 2021ª).

Selain itu, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit mengembangkan berbagai pola integrasi seperti integrasi sawit dengan tanaman pangan (Partohardjono, 2003; Singerland et al., 2019; Baihaqi et al., 2020; Kusumawati et al., 2021) pada masa TBM/immature dan integrasi sawit-ternak pada fase tanaman menghasilkan/mature (Batubara, 2004; Sinurat et al., 2004; Ilham dan Saliem, 2011; Utomo dan Widjaja, 2012; Winarso dan Basuno, 2013).

BACA JUGA:Misi Kemanusiaan ke Sumatera: 207 Truk Bantuan Diberangkatkan dari Jakarta

Dengan demikian cukup jelas bahwa budidaya monokultur pada perkebunan kelapa sawit hanya terjadi pada fase land clearing dan penanaman. Setelah fase tersebut, perkebunan kelapa sawit justru berkembang menjadi polikultur baik melalui integrasi sawit-tanaman pangan, sawit-sayuran, sawit-buah, sawit-ternak, dan pola integrasi lain maupun pertumbuhan alamiah biodiversitas.

Sistem budidaya integrasi (polikultur) kelapa sawit dengan komoditas pertanian yang demikian mendukung kelestarian biodiversitas di dalam areal perkebunan kelapa sawit (Ghazali et al, 2016) sekaligus juga menjadi solusi dari upaya untuk mencegah degradasi lahan dan penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK (Khasanah et al., 2020).

Tingkat Biodiversity Loss Rendah. Beyer et al. (2020) dan Beyer & Rademacher (2021) melakukan studi tentang komparasi kehilangan keanekaragaman hayati atau biodiversity loss global pada produksi minyak nabati dunia. Indikator yang digunakan untuk mengukur jejak biodiversity loss adalah species richness loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan.

BACA JUGA:Harga TBS Kelapa Sawit Jambi Kembali Naik, Ini Daftar Harga TBS 5-11 Desember 2025

Secara relatif dengan SRL minyak sawit sebagai pembanding menunjukkan bahwa indeks SRL minyak kedelai 284 persen, indeks SRL minyak rapeseed 179 persen, dan indeks SRL minyak bunga matahari 144 persen. Artinya, minyak sawit adalah minyak nabati dengan tingkat biodiversity loss paling rendah, sedangkan minyak nabati yang memiliki tingkat biodiversity loss paling besar adalah minyak kedelai.

Biodiversitas Bertumbuh. Secara alamiah seiring dengan pertambahan umur maka tanaman kelapa sawit juga mengalami pertumbuhan biodiversitas. Karakteristik perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun memungkinkan perkembangan kembali biodiversitas seperti pada hutan (PASPI Monitor, 2021ª).

Studi Santosa et al. (2017) mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan kelapa sawit dewasa tidak selalu lebih rendah apabila dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (ecosystem benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (high conservation value/HCV).

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika species richness loss per liter minyak nabati dari perkebunan kelapa sawit jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan berbagai tanaman minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, hingga minyak zaitun. (*)




Berita Terkait

Peran Gen Z: Menilai Sawit dari Fakta & Opini Negatif

JAMBIEKSPRES.CO.ID- Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengajak generasi muda, ...

Harga TBS Kelapa Sawit Jambi Naik Lagi Jadi Rp3.493,42/Gram, Ini Harga Baru TBS 23-29 Januari 2026

  JAMBI, SAWITSUMATERA.ID– Para petani kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali bergembira Pasalnya, harga Ta...

Fokus Tumbuh Bersama dan Kuatkan Prinsip Berkelanjutan, Astra Agro Gelar Gathering Mitra Sawit

YOGYAKARTA, SAWITSUMATERA.ID— Proporsi masyarakat petani dalam industri sawit nasional menempati urutan pertama se...

Awal Tahun 2026, Harga TBS Kelapa Sawit Jambi Stabil Per Kilonya Rp3.406,67 , Ini Daftar Harga TBS 2-8 Januari 2026

JAMBI, SAWIT SUMATERA.ID– Para petani kelapa sawit di Provinsi Jambi harus semangat menghadapi tahun baru 2026 Di...

Minyak Sawit Solusi untuk Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Minyak Sawit Solusi untuk Melestarikan Keanekaragaman HayatiSAWITSUMATERA.ID- Pada umumnya komoditas pertanian utama dun...

Peran Kunci Minyak Sawit sebagai Pilar Pangan Global

Minyak sawit memiliki peran yang sangat penting dan signifikan di tingkat internasional SAWITSUMATERA.ID- Setiap negara...

Jejak PT SAL di Tabir Selatan Dari Aksi Kesehatan ke Ikatan Sosial

MERANGIN, SAWITSUMATERA.ID- - Pagi itu, halaman fasilitas kesehatan di Kecamatan Tabir Selatan tampak berbeda. Anak-anak...

Kelapa Sawit Jadi Solusi Ketimpangan Ekonomi

Perkebunan kelapa sawit berkontribusi dalam menurunkan ketimpangan sosial ekonomi karena memiliki distribusi pendapatan ...

Minyak Sawit sebagai Minyak Nabati Utama di Pakistan

JAKARTA, SAWITSUMATERA.ID- Pertumbuhan populasi masyarakat Pakistan turut berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi mi...

76 KUD Mitra Asian Agri di Riau-Jambi Raih Premi Sawit Lestari: Dorongan Nyata untuk Petani Berkelanjutan

BUKITINGGI,SAWITSUMATERA.ID– Asian Agri memberikan apresiasi kepada petani plasma mitra di Riau dan Jambi melalui ...