Peran Gen Z: Menilai Sawit dari Fakta & Opini Negatif

Peran Gen Z: Menilai Sawit dari Fakta & Opini Negatif

Posted on 2026-02-05 13:06:03 dibaca 22 kali

JAMBIEKSPRES.CO.ID- Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk bersikap kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh kampanye negatif yang menyasar industri kelapa sawit. Menurutnya, sektor sawit telah memberikan kontribusi nyata dan strategis bagi perekonomian nasional, baik dari sisi ketenagakerjaan maupun devisa negara.

 BACA JUGA: HORE! Harga TBS Kelapa Sawit Jambi Naik Drastis Jadi Rp3.643,58/Kilo, Ini Harga Baru TBS 6-12 Februari 2026

Ajakan tersebut disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan” yang berlangsung di Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Kamis (22/1).

BACA JUGA:Fokus Tumbuh Bersama dan Kuatkan Prinsip Berkelanjutan, Astra Agro Gelar Gathering Mitra Sawit

Dalam paparannya, Eddy menegaskan bahwa industri sawit merupakan salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Hingga saat ini, kelapa sawit tercatat sebagai penyumbang devisa terbesar di luar sektor migas dan batubara, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat di berbagai daerah.

“Generasi muda, terutama Gen Z, perlu memahami bahwa sawit memiliki peran luar biasa bagi negeri ini. Jangan sampai opini negatif yang tidak berimbang justru mencemarkan industri yang telah memberi manfaat besar,” ujar Eddy.

BACA JUGA:Harga TBS Kelapa Sawit Jambi Meroket Jadi Rp 3.451,83, Ini Harga Baru TBS 16-22 Januari 2026

Sawit Serap Jutaan Tenaga Kerja

Eddy menjelaskan, industri kelapa sawit menyerap sekitar 4,6 juta tenaga kerja langsung dari sektor hulu hingga hilir. Selain itu, terdapat sekitar 2,4 juta petani swadaya dan 1,5 juta petani plasma yang menggantungkan hidupnya pada komoditas sawit. Jika dihitung secara tidak langsung, tidak kurang dari 16,5 juta penduduk Indonesia bergantung pada keberlangsungan industri ini.

Menurut Eddy, kampanye negatif yang dibiarkan tanpa diluruskan berpotensi membentuk persepsi keliru di masyarakat. Ia mengingatkan bahwa narasi yang terus diulang, meskipun keliru, lama-kelamaan bisa dianggap sebagai kebenaran.

BACA JUGA:PTPN IV Regional 4 Jambi-Sumbar Bantu 30 Set Meja Kursi ke Sekolah

Kontribusi Sawit Saat Pandemi

Eddy juga menyoroti peran penting sawit saat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, industri sawit justru mampu menyumbang devisa hingga sekitar 39 miliar dolar AS. Lebih dari itu, sektor ini tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan tetap membuka peluang kerja baru, termasuk bagi lulusan perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, selama pandemi tidak ada PHK di industri sawit. Yang terjadi justru penyerapan tenaga kerja baru,” ungkap Eddy.

Biodiesel Jaga Stabilitas Harga TBS

Meski demikian, Eddy mengakui bahwa nilai devisa sawit mengalami penurunan pada 2023 dan 2024. Salah satu penyebabnya adalah harga minyak sawit dunia yang relatif lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain, sehingga sebagian negara importir beralih ke produk substitusi.

BACA JUGA:Al Haris Ingatkan Komut Komitmen Besarkan Bank Jambi,Tersisa Tiga Calon Ikuti Asesmen Kompetensi LPPI

Untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri, Eddy mengapresiasi kebijakan mandatori biodiesel yang dijalankan pemerintah. Program tersebut dinilai efektif dalam menjaga harga tandan buah segar (TBS) petani agar tetap berada di atas biaya produksi.

Ia menegaskan bahwa pendanaan biodiesel bukan berasal dari APBN, melainkan dari pungutan ekspor sawit yang kemudian dikembalikan ke sektor sawit itu sendiri. Menurutnya, dana tersebut merupakan kontribusi pelaku industri yang dimanfaatkan kembali untuk mendukung keberlanjutan sektor sawit nasional.

Perlu Keseimbangan Domestik dan Ekspor

Eddy juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Dalam lima tahun terakhir, produksi sawit nasional cenderung stagnan. Jika bauran biodiesel terus ditingkatkan tanpa diimbangi peningkatan produksi, maka ekspor berpotensi tertekan.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa harga minyak nabati lain seperti soybean oil, sunflower oil, dan canola oil jauh lebih mahal dibandingkan minyak sawit. Kondisi ini menunjukkan peran strategis sawit dalam menjaga keterjangkauan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Menutup paparannya, Eddy kembali mengajak generasi muda untuk melihat industri sawit secara objektif dan berbasis data. Meski bukan tanaman asli Indonesia, kelapa sawit telah berkembang pesat dan memberikan kontribusi besar bagi ekonomi nasional, kesejahteraan petani, serta ketahanan ekonomi negara. (*)

Copyright 2025 SawitSumatera.id

Alamat: Jambi

Telpon: -

E-Mail: info@sawitsumatera.id