Ilustrasi panen kelapa sawit
JAKARTA, SAWITSUMATERA.ID – Pengembangan biodiesel di Indonesia yang kini bergerak dari B50 menuju B60 mendorong pentingnya riset bahan bakar alternatif untuk bensin.
Langkah ini dinilai krusial mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan bensin nasional pada 2025.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa bioetanol berbasis biomassa kelapa sawit menjadi solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi.
BACA JUGA:IPOC 2026 Bali, Prospek Harga Kelapa Sawit Dunia 2027 Jadi Sorotan Utama
Peneliti BRIN, Roni, menjelaskan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap impor bensin menuntut adanya diversifikasi energi bersih berbasis potensi lokal. Indonesia dinilai memiliki modal yang sangat besar karena terletak di wilayah khatulistiwa dengan potensi biomassa melimpah yang diperkirakan mencapai 150 ton per tahun.
“Pada 2025, Indonesia masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan bensin sehingga riset pengembangan bahan bakar alternatif menjadi semakin penting,” ujar Roni.
Sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan produksi sekitar 40 juta ton dari luas lahan sawit mencapai 16 juta hektare, limbah kelapa sawit dapat diolah menjadi bioetanol generasi kedua. Dari perkiraan 50 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS), potensi etanol yang dihasilkan bisa mencapai sekitar 1,6 juta ton per tahun. Selain itu, cairan hasil pemerasan batang sawit serta peremajaan tanaman (replanting) juga dapat menyumbang bioetanol hingga 227.000 ton per tahun.
BACA JUGA:Harga TBS Kelapa Sawit di Sumut Alami Penurunan Menjadi Rp3.717,33 per Kilogram
Kendati demikian, pengolahan bioetanol generasi kedua ini masih menghadapai sejumlah tantangan teknis. Roni menyoroti proses pretreatment yang belum optimal dalam memisahkan selulosa, hemiselulosa, dan lignin, biaya produksi yang masih tinggi karena belum terintegrasi dengan produk kimia lain, serta kebutuhan enzim yang masih bergantung pada impor.
Untuk mengatasi kendala tersebut, BRIN kini telah mengoperasikan fasilitas percontohan (pilot plant) bioetanol generasi kedua seluas 70 meter persegi. Fasilitas ini mencakup tahapan praperlakuan, sakarifikasi, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi. BRIN juga menjalin kolaborasi riset dengan Astra Agro Lestari dan Toyota Astra Motor, yang hasilnya sempat dipamerkan dalam ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023.
Pengembangan energi bersih ini turut mendapat sorotan dari Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan). Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan, Mayjen TNI Fitry Taufiq Sahary, menegaskan bahwa hilirisasi bioetanol sangat penting bagi ketahanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
BACA JUGA:Hyundai Stargazer Hadir di Jambi Mulai Rp246 Juta, Usung Fitur Keselamatan Lengkap untuk Keluarga
“Penguatan ketahanan nasional memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup hilirisasi potensi bioetanol domestik dan diversifikasi sumber energi,” tegas Fitry.
Ia menambahkan bahwa selain memperkuat efisiensi energi, integrasi teknologi di sektor energi bersih juga harus diimbangi dengan antisipasi risiko keamanan siber untuk melindungi infrastruktur informasi vital negara.(*)