Panen kelapa sawit

Produksi CPO Cukup Dukung Mandatori B50, GAPKI Ingatkan Pentingnya Produktivitas Demi Menjaga Ekspor

Posted on 2026-09-22 06:42:17 dibaca 421 kali

BALI, SAWITSUMATERA.ID— Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan bahwa produksi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia pada dasarnya cukup untuk mendukung pelaksanaan program mandatori biodiesel B50. Kendati demikian, penerapan penuh B50 pada 2027 diperkirakan dapat menekan volume ekspor secara signifikan, terlebih jika terjadi bersamaan dengan dampak fenomena cuaca El Niño.

BACA JUGA:Harga TBS Tertinggi di Dharmasraya Tembus Rp 4.042 per Kg, Terendah Rp 3.370 per Kg, Berikut Rincian Lengkapnya

Pesan strategis tersebut disampaikan oleh Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam agenda The 6th Palm Biodiesel Conference yang diselenggarakan oleh Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) di Bali, 17–18 September 2026. Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi bahwa peningkatan konsumsi domestik untuk program biofuel tidak boleh sampai mengorbankan kebutuhan pasar ekspor dan penerimaan negara.

“Penerapan penuh B50 pada 2027 akan menurunkan ekspor secara dalam,” ujar Eddy Martono.

BACA JUGA:PTPN IV PalmCo Raih Penghargaan di Dua Provinsi Berkat Kemitraan Sawit Rakyat Penopang B50

Penurunan volume ekspor tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas penerimaan negara yang selama ini diandalkan untuk menopang keberlanjutan program pendanaan subsidi energi itu sendiri.

“Penurunan ekspor berpotensi menurunkan penerimaan negara dari pajak dan pungutan ekspor, yang selama ini menjadi sumber pendanaan penting bagi subsidi biodiesel,” kata Eddy Martono.

BACA JUGA:PTPN IV PalmCo Pastikan Pasokan CPO Berkualitas dan Ramah Lingkungan untuk Mitra Bisnis

Guna mengantisipasi defisit pasokan ekspor tanpa harus melakukan perluasan lahan secara masif, GAPKI mendorong pergeseran fokus industri dari ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas perkebunan secara berkelanjutan. Langkah ini diprioritaskan melalui percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penggunaan benih unggul bersertifikat, mekanisasi panen, serta penerapan praktik pertanian digital.

“Sumber tambahan minyak sawit yang paling berkelanjutan adalah peningkatan produktivitas dari perkebunan yang sudah ada,” tegas Eddy Martono.

BACA JUGA:PTPN IV PalmCo Pastikan Pasokan CPO Berkualitas dan Ramah Lingkungan untuk Mitra Bisnis

Lebih lanjut, keberhasilan penguatan rantai pasok CPO nasional dinilai sangat bergantung pada keterlibatan dan pemberdayaan para petani swadaya di berbagai daerah.

“PSR bukan sekadar program kesejahteraan petani. Ini adalah investasi nasional yang strategis bagi keamanan bahan baku di masa depan,” kata Eddy Martono.

Melalui upaya peningkatan produktivitas dan tata kelola yang kuat, program mandatori B50 diharapkan dapat berjalan optimal tanpa mengganggu daya saing CPO Indonesia di pasar global. Pertemuan konferensi dua hari tersebut turut menegaskan pentingnya sinergi antara kesiapan bahan baku, kebijakan ekonomi, serta kredibilitas keberlanjutan industri sawit nasional.(*)

Copyright 2025 SawitSumatera.id

Alamat: Jambi

Telpon: -

E-Mail: info@sawitsumatera.id